Mengalami Financial Distress? Ini Beberapa Hal Kamu Harus Ketahui!

Pernah ingin membayar atau membeli sesuatu untuk kebutuhan bisnismu, tapi setiba kekurangan dana? Berarti perusahaan kamu sedang mengalami financial distress atau kesulitan keuangan. Pastinya hal ini sangat mengkhawatirkan dan harus segera diatasi supaya tidak menimbulkan kerugian, bahkan kebangkrutan, kan?

Karena itu, kamu harus bisa mengelola keuangan perusahaan, supaya tidak menimbulkan financial distress ini, dan mengganggu kinerja bisnismu. Nah, berikut  ini ada beberapa hal yang wajib kamu ketahui mengenai pengertian, penyebab, jenis, dan cara mengatasi kesulitan keuangan untuk kesuksesan bisnismu. Yuk, kita simak bersama!

 

Pengertian Financial Distress atau Kesulitan Keuangan

Financial Distress atau sering disebut dengan kesulitan keuangan yaitu suatu kondisi keuangan perusahaan sedang dalam masalah, krisis atau tidak sehat yang terjadi sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan.

Financial distress ini terjadi ketika perusahaan gagal atau tidak mampu lagi memenuhi kewajiban debitur karena mengalami kekurangan dan ketidakcukupan dana untuk menjalankan atau melanjutkan usahanya lagi. Financial distress ini juga ditandai dengan adanya penundaan pengiriman, kualitas produk yang menurun, dan penundaan pembayaran tagihan dari bank.

Nah, kalau kamu sudah mengetahui kondisi financial distress ini di perusahaan kamu, kamu harus melakukan tindakan untuk memperbaiki situasi ini secapatnya, sehingga perusahaan tidak akan masuk pada tahap kesulitan yang lebih berat seperti kebangkrutan ataupun likuidasi.

Apa saja indikasi dari kesulitan keuangan ini? Indikasi terjadinya kesulitan keuangan atau financial distress bisa kamu ketahui dari kinerja keuangan suatu perusahaan. Kinerja keuangan dapat diperoleh dari informasi akuntansi yang berasal dari laporan keuangan, dimana pemasukan menurun dan pengeluaran terus bertambah.

Penyebab Financial Distress

Menurut Fachrudin (2008), ada 3 penyebab kesulitan keuangan atau financial distress dalam suatu perusahaan, yaitu :

Financial Model

Kondisi ini terjadi ketika pencampuran aset benar , tapi struktur keuangan salah dengan liquidity constraints. Hal ini berarti bahwa walaupun perusahaan bisa bertahan hidup dalam jangka panjang, perusahaan tersebut harus bangkrut juga dalam jangka pendek atau tidak memberikan keuntungan sama sekali.

Neoclassical model

Salah satu penyebab financial distress dan kebangkrutan ini karena kalau alokasi sumber daya di dalam perusahaan tidak tepat. Manajemen yang kurang bisa mengalokasikan sumber daya (aset) yang ada di perusahaan untuk kegiatan operasional perusahaan bisa menimbulkan kerugian sehingga perusahaan tidak mendapat pemasukan.

Corporate governance model

Menurut model ini, kebangkrutan mempunyai campuran aset dan struktur keuangan yang benar tapi dikelola dengan buruk. Ketidak-efisienan ini mendorong perusahaan menjadi Off the market sebagai konsekuensi dari masalah dalam tata kelola perusahaan yang tidak terpecahkan.

 

Ada juga beberapa financial distress menurut Hanafi (2014), yang ditulis dalam beberapa persentase, yaitu :

 

Jenis Financial Distress atau Kesulitan Keuangan

Ada 5 bentuk atau jenis kesulitan keuangan menurut Gamayuni (2011), yaitu :

Economic failure

Suatu keadaan pendapatan perusahaan tidak dapat menutup total biaya perusahaan, termasuk biaya modal.

Business failure

Suatu keadaan perusahaan menghentikan kegiatan operasional dengan tujuan mengurangi (akibat) kerugian bagi kreditor.

Technical insolvency

Suatu keadaan perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban yang jatuh tempo.

Insolvency in bankruptcy

Suatu keadaan nilai buku dari total kewajiban melebihi nilai pasar aset perusahaan.

Legal bankruptcy

Suatu keadaan perusahaan dikatakan bangkrut secara hukum.

Kategori Financial Distress dalam Bisnis

Umumnya, financial distress atau kesulitan keuangan menjadi empat kategori menurut Fahmi (2011 yaitu:

Financial distress kategori A (sangat tinggi dan benar-benar membahayakan)

Jika berada di kategori ini, maka perusahaan dinyatakan untuk berada di posisi bangkrut atau pailit. Karena itu, sangat memungkinkan bagi pihak perusahaan untuk melaporkan ke pihak terkait seperti pengadilan, bahwa perusahaan telah berada dalam posisi bankruptcy (pailit). Perusahaan bahkan harus  menyerahkan berbagai urusan untuk ditangani oleh pihak luar.

Financial distress kategori B (tinggi dan dianggap berbahaya)

Pada posisi ini, perusahaan harus memikirkan berbagai solusi realistis dalam menyelamatkan berbagai aset yang dimiliki, seperti sumber-sumber aset yang ingin dijual dan tidak dijual/dipertahankan. Termasuk memikirkan berbagai dampak jika dilaksanakan keputusan merger (penggabungan) dan akuisisi (pengambilalihan).

Dampak yang bisa dirasakan pada posisi ini yaitu, perusahaan mulai melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan pensiun dini pada beberapa karyawannya yang dianggap tidak layak (infeasible) lagi untuk dipertahankan.

Financial distress kategori C (sedang dan dianggap masih bisa menyelamatkan diri)

Pada kategori ini, perusahaan sudah harus melakukan perombakan berbagai kebijakan dan konsep manajemen yang diterapkan selama ini.

Bahkan, kalau perlu melakukan perekrutan semua tenaga ahli baru yang memiliki kompetensi yang tinggi untuk ditempatkan di posisi-posisi strategis yang bertugas mengendalikan dan menyelamatkan perusahaan, termasuk target dalam menggenjot perolehan laba kembali.

Financial distress kategori D (rendah)

Kalau perusahaan berada pada kategori ini, situasi ini dianggap hanya mengalami fluktuasi finansial temporer atau sementara yang disebabkan oleh berbagai kondisi eksternal dan internal, termasuk lahirnya dan dilaksanakan keputusan yang kurang begitu tepat.

Cara Mengatasi Kesulitan Keuangan dalam Perusahaan

Nah, kamu mau mengetahui cara mengatasi kesulitan keuangan dalam perusahaan?  Menurut Syaryadi (2012), kamu bisa menggunakan Altman’s Z-score atau Altman Bankrupty Prediction Model Z-score untuk mengatasi adanya kerugian dalam bisnis kamu.

Altman’s Z-score ini merupakan model yang memberikan rumus untuk menilai kapan perusahaan akan bangkrut. Dengan menggunakan rumus yang diisi (interplasi) dengan rasio keuangan, maka akan diketahui angka tertentu yang ada menjadi bahan untuk memprediksi kapan kemungkinan perusahaan akan bangkrut.

Apa rumus  dari Altman’s Z-score?

Rumus untuk menghitung Nilai Z-Score untuk Model Altman’s Z-score yaitu:

Keterangan:

Xl = (Aktiva lancar – utang lancar)/Total Aset

X2 = Laba yang ditahan/Total Aset

X3 = Laba sebelum bunga dan pajak/Total Aset

X4 = Nilai pasar saham biasa da preferen/Nilai buku total utang

X5 = Penjualan/Total Aset Zi = Nilai Z-Score

Nilai cut-off adalah Z < 1,81 perusahaan masuk kategori bangkrut; 1,81 < Z-Score < 2,99 perusahaan masuk wilayah abu-abu (grey area atau zone of ignorance) atau daerah rawan dan Z >2,99 perusahaan tidak bangkrut.

Mau kan, perusahaan kamu terus mengalami keuntungan dan terbebas dari kesulitan keuangan? Karena itu, kamu harus bisa mengelola keuangan sebagai aset dengan baik dan seimbang, supaya tidak terjadi pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan dan mengakibatkan financial distress ini. Salah satu caranya juga dengan laporan keuangan yang lengkap dan teratur.

Sekarang, kamu tidak perlu khawatir untuk mengatur dan menghitung semua pencatatan keuangan perusahaan kamu, karena bisa kamu serahkan pada aplikasi JojoExpense dari Jojonomic ini! Laporan keuangan kamu dijamin lebih jelas dan akurat, apalagi dengan sistem otomatisnya sehingga praktis dan bisa kamu cek kapanpun dan dimanapun. Soal privacy? pasti aman dan terjaga dan jauh lebih efisien sehingga meningkatkan produktivitas kamu. Mau coba aplikasi keren ini sekarang?