FROM TRASH TO CASH: KEEPING MOTHER EARTH CLEAN

Sebagai makhluk hidup, sudah pasti kita sangat bergantung pada alam. Baik makanan yang kita makan, tanah yang kita tinggali, hingga udara yang kita hirup; semuanya berasal dari alam. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menjaga kelestarian alam semesta, sehingga, bukan hanya kita, namun juga kelangsungan hidup semua makhluk hidup di dunia dapat berkelanjutan. Sayangnya, justru manusia-lah yang paling sering mengotori dan merusak bumi. Berbagai macam polusi kita produksi, mencemari elemen-elemen alami yang ada di sekitar kita, salah satunya adalah sampah.

Tahukah kamu bahwa Indonesia adalah produsen sampah plastik ke-2 terbesar di dunia, setelah Republik Rakyat Cina? Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton. Mengingat waktu penguraian sampah plastik yang berkisar 12-20 tahun—dan styrofoam yang bisa mencapai 500 tahun—tidak menutup kemungkinan, jika produksi sampah kita terus meningkat, kita harus membiasakan diri berenang di lautan sampah, bukan di lautan ikan.

Sehubungan dengan hal ini, Jojonomic menggalang acara “From Trash to Cash”, yaitu acara dimana tim Jojonomic pergi ke suatu lahan di sekitar kantor yang penuh dengan sampah, lalu memunguti sampah di lokasi tersebut, demi membersihkan lingkungan. Sampah-sampah yang kami kumpulkan hanya yang termasuk kategori sampah anorganik dan memiliki potensi didaur ulang. Hasil pungutan tersebut lalu akan disumbangkan ke bank sampah terdekat untuk mereka timbang dan menjadi tabungan Jojonomic. Dari sampah, menjadi berkah, kan? Memang uangnya tidak seberapa, tapi yang penting adalah selangkah lebih dekat menuju kelestarian alam dan kebersihan lingkungan. Bukan hanya sebagai timbal balik kepada ibu pertiwi, tapi juga demi kesehatan kita sendiri.

Berhubung cuaca yang mendadak berubah menjadi buruk, acara yang seharusnya berlangsung selama lebih dari satu jam terpaksa dipotong menjadi hanya 5 menit saja. Begitu pun, sampah yang terkumpul sudah mencapai lebih dari 20kg. Itu pun sudah pasti tidak mencapai 10% dari hamparan sampah yang ada di lahan yang dikunjungi oleh tim Jojonomic—seperti yang dapat terlihat di foto-foto ini. Banyak pula sampah tersebut yang nampaknya sudah terdampar di sana sejak lama, sehingga baunya sudah tak sedap dan bentuknya sudah sedikit menyatu dengan tanah. Padahal, bila sampah-sampah tersebut dipilah-pilah sebelum dibuang, besar kemungkinan mereka akan dapat lebih mudah didaur ulang.

Harapannya, sudah pasti, adalah acara ini bisa menjadi proyek jangka panjang di Jojonomic. Dengan begitu, tidak hanya dapat berkontribusi kepada warga sekitar, namun juga kepada alam. Tentu saja, ada solusi lain untuk krisis sampah ini, yaitu mengurangi produksi sampah. Cara termudah yang dipraktekkan oleh Jojonomic sehari-hari adalah going paperless—terutama untuk keperluan manajemen finansial dan human resources kantor. Melalui teknologi seperti JojoTimes dan JojoExpense, kita dapat memotong produksi sampah, terutama kertas, secara siginifikan. Dengan begini, tidak perlu lagi ada rasa bersalah telah menyumbang sampah ke lingkungan sekitar kita.

Yuk, kita sama-sama jaga kelestarian alam di sekitar kita!

Salam hangat,

Jojo

#remoteworking #worksmarter
#thefutureofwork