Kenali Koresponden Media Massa agar Kamu Jadi Jurnalis Andal

Kita mengetahui, bahwa keberadaan media massa adalah untuk memberitakan dan memenuhi hak masyarakat atas informasi.

Untuk itu, mereka setiap harinya bekerja mencari dan mempublikasikan berita. Pekerjaan tersebut dilakukan oleh para wartawan, ada juga para koresponden.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa wilayah Indonesia yang uas, penduduk yang banyak, sangat memungkinkan produksi berita yang banyak setiap harinya. Namun, terkadang media massa tidak memiliki cukup sumber daya untuk meliputnya.

Menyiasati al tersebut, maka ada yang namanya koresponden. Mereka juga bisa disebut dengan kontributor. Sebuah profesi yang memiliki prinsip kerja dan tugas mirip dengan para jurnalis. Namun, tetap memiliki perbedaan.

Di artikel kali ini, kita akan coba bahas topik soal koresponden, khususnya dalam konteks media massa. Bukan dalam konteks korespondensi atau surat menyurat ya!

Bagi kamu yang suka menulis dan kerja jurnalistik, tapi tidak ingin menjadi jurnalis penuh waktu, mungkin kamu bisa pilih jalan ini. Untuk itu, baca artikel ini sampai selesai ya!

Koresponden secara Harfiah dan Istilah

Kita akan sama-sama mulai artikel ini dengan berkenalan, karena katanya kalau tak kenal maka tak sayang. Namun untuk konteks kali ini, yang lebih tepat adalah tak kenal maka tak paham. Jadi, sebelum ke pembahasan lain, kita mulai dari pengertian kata koresponden terlebih dahulu.

Jika mengacu pada engertian atau penjelasan harfiah di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata koresponden diartikan sebagai pelapor atau wartawan yang tinggal dan bertugas di tempat lain yang secara teratur mengirimkan berita ke redaksi.

Namun, ada juga yang mengatakan bahwa koresponden bisa dipadankan dengan kontributor. Namun ada beberapa engertian yang membedakan antar keduanya.

Sehingga dapat kita artikan, bahwa koresponden merupakan bagian dalam media massa. Tugasnya seperti wartawan atau jurnalis, hanya saja ia tidak berada dekat atau bekerja di kantor media massa tersebut.

Keberadaan mereka ada di banyak wilayah, dan tugasnya adalah meliput berita di wilayah mereka lalu mengirimkannya ke pihak redaksi di kantor media terkait.

Misalnya koresponden media internasional di Indonesia. Sebut saja Mongabay, kantor pusatnya tidak berada di Indonesia, tapi media ini tetap ingin dan butuh untuk memberitakan isu-isu yang tengah hangat di Indonesia, yang tentunya punya nilai berita tinggi juga untuk khalayak dunia.

Untuk itu, ia memiliki koresponden di Indonesia, yang akan membantu kerja media tanpa harus mengirimkan wartawannya jauh-jauh dari Amerika.

Perbedaan Koresponden dan Kontributor

Sekarang, kita akan bahas lebih jauh, apa perbedaan antara koresponden dan kontributor. Pengertian berikut ini, bisa saja diartikan berbeda, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ada media massa yang menganggapnya sama.

Kata koresponden selain arti yang dijelaskan di atas, bisa juga diartikan dengan wartawan daerah, atau wartawan yang ditempatkan di negara lain. Di luar dari wilayah tempat media massa bersangkutan berada.

Sedangkan kata kontributor, diartikan dengan penyumbang naskah atau tulisan ke media massa. Namun, secara struktural tidak tercantum dalam susunan redaksi.

Biasanya, bentuk pekerjaan kontributor dalam media massa adalah sebagai kolumnis, karikaturis, atau penulis-penulis karya sastra. Mereka biasanya akan setara dengan wartawan lepas atau freelance journalist.

Prinsip Kerja dan Tugas Para Koresponden

Pasca membahas tentang pengertiannya, sekarang kita akan masuk ke prinsip kerja atau bentuk tugas dari koresponden. Melihat pada penjelasan sebelumnya, sebetulnya wartawan ataupun koresponden sama saja, hanya yang membedakan adalah lokasi penugasannya.

Maka dari itu, bisa kita katakan bahwa prinsip kerja dan tugas para koresponden mirip dengan para wartawan, yaitu:

Pertama, News Gathering

Prinsip kerja atau tugas pertamanya adalah news gathering yang bisa kita artikan juga sebagai proses perumusan dan pencarian berita. Biasanya, para koresponden akan mencari isu atau topik berita. Kemudian akan dikoordinasikan dengan pihak redaksi yang lain, seperti koordinator liputan atau pemimpin redaksi.

Hal tersebut dilakukan, agar apa yang diberitakan atau isu yang diangkat masih sesuai dengan standar media massa terkait. Proses pelaporan isu ini bisa ada, bisa juga tidak ya.

Berikutnya, koresponden akan meliput atau mencari data terkait isu yang ia garap. Mulai dari membuat janji, melakukan wawancara, hingga mengambil gambar. Data-data tersebut kemudian diolah dan dikemas menjadi sebuah karya jurnalistik.

Saat sudah menjadi karya jurnalistik, biasanya koresponden akan mengirim ke editor atau pemimpin redaksi, untuk selanjutnya di edit dan siap dipublikasikan kepada khalayak.

Kedua, News Editing

Kedua, kontributor bisa saja menjalankan tugas editing terhadap karyanya sebelum dipublikasikan. Ia bertindak sebagai bagian pertama, untuk kemudian disampaikan ke bagian berikutnya atau editor selanjutnya.

Tugas ini tentatif, tidak semua media mengharuskan korespondennya untuk melakukan editing.

Ketiga, Mengirim Berita

Ini adalah tugas utama dari koresponden, yaitu mengirimkan informasi kepada redaksi media massa. Penempatan dirinya di wilayah yang jauh seperti luar negara, ditujukan untuk mencari dan menghimpun berita di negara tersebut. Untuk itu, ia harus mengirimkan informasi-informasi yang ia dapat di lokasi penempatannya.

Hal yang Harus Kamu Pikirkan Saat Akan Menjadi Koresponden

Bagi media massa yang memberikan status pekerja lepas terhadap korespondennya, itu akan memberikan keuntangan dan kerugian tersendiri.

Sebagaimana pekerjaan yang lain, status lepas membuatmu tidak terikat dengan perusahaan atau media massa tertentu. Kamu juga bisa membahas isu-isu yang lebih luas, dan tidak terlalu terikat dengan yang ditentukan oleh redaksi.

Akan tetapi, ternyata koresponden di media massa khususnya yang bekerja untuk media massa di Indonesia, masih jauh dari perlindungan. Banyak dari mereka yang tidak mendapat perlindungan keamanan dan kesehatan. Itu sejalan dengan ketiadaan hukum yang jelas, sekalipun di UU Ketenagakerjaan.

Menyikapi hal itu, aliansi dan organisasi kewartawanan terus memperjuangkan kesejahteraan para koresponden. Sebab mereka memiliki risiko kerja yang sama dengan para jurnalis atau wartawan tetap di media massa.

Risiko Bekerja sebagai Koresponden Media Massa

Pekerjaan dan tugas yang tidak jauh berbeda, seperti meliput, mengejar narasumber dan menghadapi berbagai kemungkinan di lokasi peliputan. Membuat risiko kerja koresponden media massa mirip dengan para jurnalis, diantaranya adalah:

Dekat dengan Risiko Kematian

Kita mungkin sudah banyak yang tahu dan menyadari bahwa pekerja di media massa, khususnya mereka yang turun ke lapangan memiliki risiko kerja yang tinggi, bahkan sampai pada kematian.

Hal ini bisa saja dialami oleh para koresponden yang bertugas di negara konflik atau perang serta di wilayah bencana. Kondisi yang tidak dapat diprediksi seperti peluru nyasar atau bencana susulan, akan mengintai setiap waktu.

Banyak Tuntutan

Kedua, profesi ini akan dekat dengan tuntutan. Kerja media massa akan erat kaitannya dengan kecepatan atau kita sering sebut dengan deadline. Selain itu, sebagai penyampai informasi kepada publik, kamu juga dituntut untuk siap siaga kapan saja dan dimana saja untuk turun ke lokasi peliputan.

Dengan begitu, kamu dituntut untuk senantiasa berada dala kondisi sehat, dapat berpikir dengan baik, serta dapat menyelesaikan tugas dengan cepat dan berkualitas.

Menghadapi Berbagai Penolakan

Sebagai koresponden di media massa, pekerjaanmu sudah pasti berkaitan dengan banyak orang atau narasumber. Akan tetapi, menemui dan menggali informasi tidak semudah kamu berbincang dengan teman-temanmu. Kamu akan sangat mungkin menerima penolakan.

Karenanya, kamu harus memiliki banyak cara dan menyiasati itu dengan baik. Karena bagaimanapun kondisimu, media massa tempatmu bekerja akan menuntut dan meminta informasi tersebut dari kamu.

Butuh Fleksibilitas yang Tinggi

Bagi seorang koresponden media massa, fleksibilitas sangat dibutuhkan. Sebab kamu akan dituntut untuk banyak berpindah tempat untuk mengejar informasi.

Lai dari pada itu, kamu juga dituntut untuk memiliki fleksibilitas waktu. Banyak kejadian atau informasi yang tidak terduga tapi tetap harus kamu liput dan beritakan. Pun di hari libur dan waktu istirahat.

Itulah pembahasan seputar koresponden media massa. Jika kamu tertarik, kamu bisa mendaftarkan diri untuk menekuni profesi ini. Jangan takut mencoba, karena kamu akan mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang mengesankan.

Bagi kamu pemilik atau human resource media massa, kamu tetap harus memperhatikan kerja korespondenmu. Mereka sudah bekerja keras untuk mebuat konten-konten menarik, maka harus mendapatkan hak-haknya dengan baik, termasuk jaminan kesehatan.

JojoExpense

Dalam hal mengawasi kinerja koresponden, kamu bisa menggunakan aplikasi JojoTimes dar Jojonomic. Aplikasi berupa sistem pengabsenan online yang akan menunjukkan lokasi keberadaan karyawanmu. Dan kamu pun bisa melihat kerja mereka melalui gadgetmu. Kalau penasaran langsung pelajari dan coba ya!