Keunggulan dan Kekurangan Menjadi Pekerja Kerah Putih

pekerja kerah putih

Istilah pekerja kerah putih sudah banyak digunakan sejak tahun 80 – 90 an. Penggunaan nama ini berdasarkan jenis seragam yang kerap digunakan saat itu berupa kemeja warna putih. Istilah ini kemudian menggambarkan karyawan kantoran yang berasal dari kalangan terdidik. Asumsi yang berkembang, dalam bekerja, mereka lebih cenderung menggunakan pikiran daripada kerja fisik.

Ini menjadi kebalikan dari buruh atau pekerja kasar. Golongan yang kedua lebih sering disebut pekerja kerah biru. Nama ini berasal dari seragam jenis wearpack warna biru yang sering mereka gunakan. Asumsinya, pekerjaan pekerja kerah biru cenderung didominasi kerja yang mengandalkan fisik.

Dari penjabaran tersebut, orang cenderung menganggap bahwa strata sosial pekerja kerah putih lebih tinggi daripada satunya. Padahal, kenyataannya sama saja merupakan orang yang bekerja untuk orang lain. Namun, saat ini pekerja kerah biru cenderung disebut buruh. Sedangkan pekerja kerah putih cenderung dipanggil sebagai karyawan perkantoran.

pekerja kerah putihKeunggulan Menjadi Pekerja Kerah Putih

Jika dibandingkan dengan pekerja kerah biru, kelompok ini memang memiliki beberapa keunggulan. Diantaran keunggulaannya yaitu sebagai berikut.

1.      Lingkungan Kerja yang Lebih Baik

Ini merupakan jenis keunggulan yang dapat secara langsung  dilihat secara kasat mata. Tanpa harus melakukan analisa, kita dapat melihat dengan jelas bahwa tempat bekerja karyawan kantor lebih baik dari buruh. Dari segi ruangannya saja, karyawan kantor bekerja di ruangan yang cenderung bersih, bahkan terkadang dilengkapi AC.

Sedangkan, ruang kerja buruh mungkin cenderung panas. Kalaupun ada, bukan AC yang terpasang, paling hanya sekedar kipas angin. Satu  ruang kerja buruh bisa digunakan oleh ratusan orang. Sedangkan karyawan kantor, paling banter hanya 20 – 30 orang, itupun sudah disekat berbentuk cubicle-cubicle yang nyaman.

Jadi, jelas bahwa pekerja kerah putih memiliki lingkungan kerja yang lebih baik dan nyaman dari pekerja kerah biru.

2.      Penghasilan yang Lebih Besar

Ini mungkin masih bisa diperdebatkan, namun jelas bahwa mayoritas karyawan maupun buruh akan berpendapat sama. Secara, dari tingkat pendidikan minimal saja sudah beda. Serendah-rendahnya tingkat pendidikan karyawan kantor adalah SMA. Rerata adalah lulusan S1 perguruan tinggi. Sangat jarang ditemukan karyawan kantor yang berpendidikan hanya SMP atau SD.

Berbeda dengan buruh, sangat jarang ditemukan buruh berpendidikan sarjana. Kalaupun ada, sering posisinya langsung menjadi manajer atau supervisor. Kebanyakan adalah SMA atau  SMP. Tak jarang juga ditemukan lulusan SD, tergantung kepada bidang pekerjaan tersebut. Disini kelihatan berapa kemungkinan gaji atau upah yang mereka dapatkan.

Para fresh worker dari karyawan kantor, mungkin mendapatkan 500 ribu hingga 1 juta lebih banyak dari fresh worker buruh. (fresh worker = orang yang baru bekerja pertama kali). Misal UMR di sebuah kota adalah Rp 1.800.000, nilai itu biasanya didapatkan buruh. Sedangkan pekerja kerah putih, gajinya dapat berkisar antara 2 – 3 juta rupiah.

pekerja kerah putih3.      Jenjang Karir yang Lebih Terbuka

Agaknya tidak banyak yang tidak setuju tentang poin ini. Para pekerja kerah putih cenderung memiliki kemungkinan promosi ke jabatan yang lebih tinggi. Kemungkinan ini lebih besar daripada buruh yang dipromosikan ke pangkat di atasnya.

Paling tidak, ada 3 alasan kenapa hal ini terjadi.

  1. Kompetisi untuk naik jabatan di kalangan karyawan kantor relatif lebih rendah dariapada di lingkungan buruh. Saingan karyawan kantor mungkin hanya puluhan, sedangkan buruh harus bersaing dengan ratusan buruh lainnya.
  2. Seringkali untuk naik jabatan membutuhkan syarat minimal tingkat pendidikan. Ini membuat buruh sering tidak dapat memenuhi persyaratan tersebut. Sedangkan karyawan kantor lebih leluasa mengambil perkuliahan kelas malam atau kelas akhir pekan.
  3. Setinggi-tingginya kenaikan jabatan buruh, paling hanya sampai level supervisor atau mid-level management lapis kedua. Sedangkan karyawan kantor dapat saja mencapai tingkat direksi, tergantung kapabilitasnya.

Semua hal tersebut melahirkan opini bahwa pekerja kerah putih memiliki lebih banyak kesempatan naik jabatan dibanding kerah biru.

4.      Prestise yang Lebih Tinggi

Istilah prestise merujuk kepada kesan masyarakat dalam melihat sesuatu. Mungkin bisa disebut dengan gengsi. Tingkat gengsi untuk menjadi karyawan perkantoran lebih tinggi daripada buruh. Ini karena asumsi bahwa untuk menjadi buruh, cenderung hanya menggunakan otot saja. Sedangkan untuk menjadi karyawan kantor, dibutuhkan otak atau kemampuan berpikir.

Padahal, dalam kenyataannya keduanya sama membutuhkan otak dan otot. Hanya saja, memang kecenderungan buruh melakukan kerja fisik yang berulang-ulang atau rutin. Sedangkan karyawan kantor lebih terlihat variatif, meski lingkupnya juga di seputar hal yang sama.

Gengsi  ini juga dapat timbul dari tempat kerja,  dimana karyawan kantoran cenderung bekerja di gedung-gedung. Sedangkan buruh, bekerja di bangsal besar yang ditempati ratusan orang untuk memproduksi sesuatu. Apa yang dilihat masyarakat memberikan kesan gengsi yang lebih tinggi untuk pekerja kerah putih.

pekerja kerah putihKekurangan Pekerja Kerah Putih

Meski memiliki keunggulan-keunggulan seperti di atas, bukan berarti menjadi karyawan kantor tak memiliki kekurangan. Berikut ini adalah kekurangan-kekurangan yang dimiliki ketika menjadi seorang pekerja kerah putih.

5.      Ancaman Kesehatan

Peluang tidak sehat ini datang dari minimnya aktifitas fisik yang dilakukan oleh karyawan kantor. Dalam proses kerja yang berkisar 7 – 8 jam tersebut, karyawan kantor cenderung berada di depan meja menghadapi komputer. Kalaupun berjalan, paling  hanya di  seputar kantor saja. Kalaupun ada tugas luar, itu sangat jarang terjadi.

Ini menyebabkan banyak ancaman kesehatan yang mengarah mereka. Biasanya, penyakit yang kemudian muncul terkait dengan degeneratif, psikosomatis, dan depresi. Jika ini tidak diperhatikan dengan lebih baik, akan berdampak sangat buruk bagi karyawan maupun perusahaan.

6.      Jam Kerja Molor

Yang dimaksud dengan jam kerja molor disini tidak hanya tentang jam lembur, tapi kecenderungan untuk membawa pulang pekerjaan. Sekilas, mungkin termasuk kelebihan pekerja kantoran untuk dapat tetap bekerja dari mana saja. Namun, sebenarnya ini merupakan sebuah kekurangan. Karena karyawan tersebut akan kehilangan waktu berkualitas dengan keluarga.

Berbeda dengan buruh yang begitu pulang langsung istirahat. Karyawan kantor setelah pulang mungkin masih memikirkan pekerjaan. Bahkan, tak jarang yang lalu membuka lagi file pekerjaan di rumah untuk menyelesaikan tugas yang belum kelar di kantor.

Sebagai pekerja kerah putih, memang perlu memiliki ketegasan pribadi mengenai pekerjaan. Urusan kantor harus selesai di kantor. Tidak boleh ada urusan kantor yang dibawa ke rumah. Saat di rumah adalah saat istirahat dan quality time bersama keluarga. Ini harus senantiasa di pegang oleh mereka.

Mengoptimalkan Pekerja Kerah Putih

Dengan keunggulan dan kelebihan pekerja kerah putih tersebut, kembali kepada setiap orang ingin seperti apa kerjanya. Yang jelas, pekerjaan tersebut sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya. Dengan demikian, kemampuan terbaik karyawan tersebut dapat dikeluarkan secara optimal.

JojoTimes untuk mengelola karyawanSalah satu tantangan bagi perusahaan adalah mengelola SDM-nya. Untuk itu, cara terbaik adalah dengan menggunakan JojoTimes. Aplikasi ini dilengkapi fitur terbaik untuk mengontrol dan mengelola SDM perusahaan. Laporan kinerja karyawan pun dapat dibuat dengan mudah dan cepat. Coba demo gratisnya di sini. Dan, optimalkan pekerja kerah putih perusahaan Anda.