Pemutusan Hubungan Kerja Dengan Sistemasi Yang Tepat

pemutusan hubungan kerja

PHK yang merupakan singkatan dari Pemutusan Hubungan Kerja tentunya sudah todak terdengar asing lagi bagi kita. Hampir semua orang tahu apa arti dari istilah ini dan kata tersebut seolah menjadi hal yang menyeramkan dan tidak ingin didengar atau terjadi. Istilah ini memang mengacu pada suatu peristiwa yang kurang menyenangkan, terutama bagi para tenaga kerja. Namun hal yang paling ditakuti oleh para tenaga kerja ini justru sering dijumpai di tanah air.

Saat seorang karyawan mengalami pemutusan hubungan kerja dengan sebuah perusahaan kondisi ini bisa saja terjadi karena berbagai macam hal. Tentu saja adanya pemutusan hubungan kerja antara seorang karyawan dengan perusahan ini bisa berdampak besar pada karyawan. Dalam hal ini pekerja atau karyawan yang telah berakhir masa hubungan kerjanya dengan perusahaan sudah tidak perlu lagi menjalankan kewajibannya di perusahaan. Jadi karyawan yang akhirnya mengalami pemberhentian masa kerja ini sudah bebas dan tidak memiliki keterikatan lagi dengan perusahaan.

Prosedur Pemutusan Hubungan Kerja

Pada saat perusahaan memutuskan untuk memberhentikan seorang karyawan maka ada berbagai hal yang perlu diperhatikan. Jalannya pemutusan hubungan kerja tersebut harus dilakukan dengan prosedur yang benar. Dalam hal ini karyawan sebelumnya harus diberikan kesempatan untuk melakukan pembelaan diri sebelum hubungan kerjanya tersebut diputus. Selain itu pemilik perusahaan harus melakukan segala upaya untuk bisa menghindari adanya pemutusan hubungan kerja tersebut.

Pemutusan hubungan kerja antara karyawan dengan perusahaan ini juga harus dibicarakan bersama dan dinegosiasikan. Bahkan sebenarnya hubungan ini seharusnya tidak sampai terjadi karena bagaimanapun juga hal ini bisa merugikan bagi pihak pekerja. Namun jika proses pembicaraan dan perundingan yang sudah dilakukan tidak bisa membuahkan suatu kesepakatan maka hal ini bisa diputuskan setelah adanya perolehan penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial. Dalam hal ini pemilik perusahaan bisa tetap memutuskan hubungan dengan karyawan setelah adanya perolehan penetapan dari lembaga yang berwenang tersebut.

Jika memang alasan dari PHK yang dialami oleh seorang karyawan ternyata tidaklah adil maka pemilik perusahaan atau pengusaha dalam hal ini harus bersedia untuk mempekerjakan karyawannya kembali. Setidaknya pengusaha bisa memberi kompensasi kepada pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja dengan faktor adanya ketidakadilan tersebut. Namun jika pengusaha melakukan pemutusan hubungan kerja karena faktor lain seperti misalnya adanya perubahan dalam operasionalisasi perusahaan maka pengusaha sebaiknya merundingkannya terlebih dahulu dengan para tenaga kerja atau serikat pekerja.

Dengan adanya perundingan ini maka diharapkan agar bisa dihasilkan suatu keputusan. Keputusan yang diambil tentunya telah menjadi kesepakatan bersama sehingga bisa berdampak baik untuk semuanya yaitu untuk pengusaha dan perusahaannya serta untuk para tenaga kerja. Jika melalui perundingan ini tidak dapat dihasilkan suatu keputusan maka baik pengusaha maupun serikat pekerja bisa mengajukan permasalahan yang dialaminya tersebut pada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial. Dengan adanya berbagai hal yang dilakukan tersebut maka diharapkan agar hasil keputusan yang diambil bisa menjadi hal terbaik bagi semua pihak.

Penyebab Pemutusan Hubungan Kerja

Umumnya saat perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja, ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Di antaranya yaitu sebagai berikut:

1. Melakukan tindak pidana

Seorang karyawan bisa saja mengalami pemutusan hubungan kerja karena adanya kesalahan yang dilakukan selama ia bekerja. Bisa saja karyawan tersebut melakukan suatu tindak pidana atau melakukan tindak kriminal yang pada akhirnya merugikan perusahaan. Tindak pidana tentu saja merupakan hal yang salah termasuk pula di mata hukum. Oleh karena itu tindakan ini harus diberikan sanksi agar tidak sampai terjadi lagi dan tidak membahayakan atau merugikan pihak lainnya.

2. Memiliki karakter buruk

Setiap karyawan di suatu perusahaan tentu memiliki karakter yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Namun bila karyawan memiliki karakter yang buruk dan merugikan perusahaan maka pengusaha berhak untuk memberhentikan masa kerja karyawan tersebut. Pemutusan hubungan kerja dengan karyawan diharapkan agar ke depannya perusahaan bisa terhindar dari dampak karakter buruk yang dimiliki oleh karyawan.

3. Merugikan perusahaan dengan sengaja

Kerugian memang bukan menjadi hal yang jarang ditemui di sebuah perusahaan. Hampir setiap perusahaan pasti pernah mengalami masa kejatuhan sehingga mengalami kerugian. Namun jika kerugian ditimbulkan oleh seorang karyawan dengan sengaja maka karyawan yang melakukannya bisa diberikan sanksi. Bisa saja sanksi ini berupa pemberhentian masa kerja sehingga karyawan tidak akan melakukan hal ini pada perusahaan lagi.

4. Membocorkan rahasia perusahaan

Rahasia sebuah perusahaan pada dasarnya sangat penting. Rahasia perusahaan ini tentu harus disimpan dan dijaga dengan baik. Sebab jika rahasia sampai bocor maka kondisi ini bisa membahayakan bagi keberadaan perusahaan. Oleh karena itu karyawan yang membocorkan rahasia perusahaan bisa saja diberhentikan dengan terpaksa karena tindakan cerobohnya tersebut.

Dampak PHK Bagi Karyawan

Tentu saja pemutusan hubungan kerja ini membawa banyak dampak bagi para karyawan. Beberapa dampak yang umum terjadi meliputi:

1. Kondisi ekonomi sulit

Adanya PHK tentu berdampak buruk bagi karyawan yang mengalaminya. Dampak yang sudah tentu dialami adalah berkurangnya penghasilan karyawan. Kurangnya penghasilan atau pendepatan karyawan ini bisa membuat kondisi perekonomian karyawan menjadi lebih sulit. Kondisi ekonomi ini juga bisa berdampak pada keluarga karyawan pada akhirnya.

2. Rendah diri

Perasaan tidak berguna dan sikap rendah diri bisa saja timbul pada seorang karyawan yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Terlebih lagi jika karyawan yang mengalami pemecatan tersebut akhirnya menjadi bahan pembicaraan oleh orang lain di sekitarnya. Hal ini bisa membuat dirinya menjadi stres atau memiliki perasaan tertekan sehingga bisa berakhir timbulnya depresi.

3. Melakukan tindak kriminal

Adanya kondisi perekonomian yang sulit cenderung membuat karyawan yang telah berhenti bekerja harus mencari uang untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Dalam hal ini karyawan bisa melakukan tindakan kriminal untuk mendapatkan uang. Pada akhirnya hal ini bisa membuat tingkat kriminalitas menjadi lebih tinggi. Tingginya kriminalitas akan membuat masyarakat resah dan negara menjadi lebih kacau.

Secara umum memang tidak ada yang baik dengan kondisi pemutusan hubungan kerja bila tidak dilakukan dengan tepat. Sama halnya dengan kondisi keuangan perusahaan, dibutuhkan produk yang tepat untuk memastikan keuangan perusahaan berjalan lancar. Misalnya dengan menggunakan JojoExpense. Dimana produk ini dapat membantu terciptanya sistem keuangan yang lebih baik. Bukan itu saja, tetapi juga membantu efisiensi keuangan perusahaan yang lebih maksimal.
Manfaat ini bisa didapatkan berkat beberapa fitur andalan dari JojoExpense. Misalnya saja beberapa fitur berikut ini:

  • Approval Status Tracking Monitor.
  • Monitoring Requester’s Budget Limit.
  • Custom Expense Categories.
  • Expense Plafond.
  • Add on Description Form to verify Expense.

Oleh karena itu jangan ragu untuk mendapatkan coba gratis sesegera mungkin. Jadikan sistem keuangan perusahaan Anda lebih baik bersama dengan JojoExpense.