Laba Kotor: Pengertian dan Cara Menghitungnya

Dalam sebuah bisnis, terdapat beberapa komponen yang perlu kita perhatikan. Salah satunya adalah laba, yang terbagi ke dalam laba bersih dan laba kotor. Mungkin bagi kalian yang pernah terjun ke dunia bisnis, nama ini sudah tidak asing lagi, karena seorang pebisnis wajib memperhitungkan segala jenis laba, baik yang bersih maupun yang kotor.

Tapi bagi kaum awam, bahkan bagi orang yang tidak mempelajari bidang perkonomian, mungkin tidak tahu mengenai topik yang akan kita bahas ini. Jadi, mari kita bahas lebih lanjut apa itu laba kotor!

Apa itu Laba Kotor?

Laba kotor itu memiliki definisi sebagai laba yang didapatkan perusahaan setelah dikurangi dari biaya pembuatan dan penjualan, tanpa memperhitungkan biaya lainnya di dalam produksi suatu barang, apalagi bila memerlukan biaya tambahan yang besarannya bisa berubah-ubah.

Yang dimaksud biaya lainnya adalah biaya internet, listrik, air, transportasi dan bahkan sampai pulsa seluler yang kita gunakan untuk menunjang aktivitas kita. Ini biaya yang tidak ikut dihitung, karena ini bukan biaya pembuatan atau penjualan produk. Tapi, biaya ini lebih mengarah ke biaya operasional kantor.

Perbedaan Laba Kotor dengan Laba Bersih

Kedua jenis laba ini memiliki perbedaan, dimana, dalam laba bersih, semua biaya pengeluaran, seperti biaya produksi, penjualan dan operasional juga ikut dalam hitungan. Biaya ini biasa disebut sebagai biaya variabel.

Besaran biaya ini juga dapat berubah-ubah setiap bulannya, karena tergantung dari seringnya penggunaaan listrik, air, internet dan semacamnya.

Perbedaan Laba Kotor dengan Laba Operasi

Kedua hal ini juga tidak bisa disamakan. Laba operasi adalah laba yang belum dihitung dengan pajak dan bunga perusahaan. Laba dihitung dengan cara mengurangi laba kotor dengan biaya operasional. Seorang pengusaha harus bisa membedakan biaya-biaya ini untuk mencegah kesalahan dalam penghitungan.

Manfaat Laba Kotor

Seperti yang sudah dibahas di atas, laba kotor tidak masuk dalam biaya tetap. Biaya tetap adalah biaya yang harus dibayarkan terlepas dari tingkat output-nya. Biaya tetap itu biasanya digunakan untuk asuransi, iklan, sewa, gaji karyawan, yang tidak terlibat langsung pada produksi, dan perlengkapan kantor.

Laba kotor dapat menilai efisiensi perusahaan dalam penggunaan tenaga kerja dan persediannya. Karena, jika perusahaan mengalami defisit, tenaga kerja tidak melakukan pekerjaannya secara efisien. Dari penghitungan laba ini, seorang pengusaha dapat mengevaluasi tenaga kerjanya untuk meningkatkan atau mengubah gaya bekerjanya.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Laba Kotor

Laba yang diperoleh perusahaan tidaklah selalu sama dari satu periode ke periode lainnya, bisa dibilang dapat berubah-ubah dan tidak konstan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang menyebabkan berubah-ubah tinggi rendahnya besaran laba. Berikut adalah faktor-faktor yang memengaruhinya:

Harga Jual Barang dan Jasa

Yang pertama adalah harga jual. Ini akan memengaruhi berapa besar laba yang akan diperoleh perusahaan. Semakin tinggi harga jual dari suatu produk, maka laba perusahaan akan mengalami peningkatan.

Perbedaan harga jual periode saat ini dan periode sebelumnya dapat memengaruhi pendapatan laba perusahaan. Jika pada periode saat ini harga jualnya tinggi, maka pendapatan akan tinggi, sedangkan jika harga jualnya rendah pendapatan akan rendah. Inilah mengapa laba kotor tidak akan konstan dari periode ke periode.

Jumlah atau Volume Barang dan Jasa yang Dijual

Kemudian, faktor yang kedua ini akan menentukan berapa banyak laba yang dapat diperoleh perusahaan. Perubahan dalam  jumlah barang yang dijual akan mengubah pula laba yang akan diperoleh.

Semakin tinggi jumlah barang yang dijual maka, semakin tinggi juga laba yang akan diperoleh perusahaan tersebut.

Harga Pokok Penjualan dan Jasa

Faktor ketiga adalah harga pokok penjualan dan jasa. Hal ini juga sangat berpengaruh dalam penghasilan biaya laba. Jika penjualan biaya pokok berubah, harga jual tidak dapat berubah, melainkan akan memengaruhi hasil laba.

Harga pokok penjualan dipengaruhi oleh bahan baku, upah tenaga kerja dan kenaikan harga secara umum.

Jadi, faktor-faktor yang lainnya tidak berubah. Maka, setiap kenaikan biaya bahan baku atau upah tenaga kerja, akan pendapatan mengalami penurunan  dan sebaliknya. Jika terdapat penurunan biaya bahan baku atau upah tenaga kerja, maka pendapatan akan konstan atau naik.

Rumus Laba Kotor

Dalam penghitungan laba jenis ini, dibutuhkan rumus yang telah ditentukan. Rumus yang dimaksud adalah pendapatan dikurangi dengan harga pokok penjualan. Pendapatan yang dimaksud adalah hasil dari apa yang kita dapat lewat menjual produk yang kita pasarkan.

Harga pokok penjualan, atau yang biasanya disebut sebagai HPP, adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang atau jasa. HPP biasanya dihitung untuk menentukan harga dari suatu produk yang kita jual.

Laba Kotor = Pendapatan – Harga Pokok Penjualan.

Cara Menghitung Laba Kotor

Untuk membuat kalian mengerti, kami membuat sebuah simulasi cara menghitung dengan studi kasus seperti ini:

Sebuah pabrik memproduksi 1.000 unit mobil pada periode yang sudah ditentukan dan perusahaan membayar Rp 3 trilyun untuk biaya pembangunan, bahan dan mesin pabrik untuk membuat mobil. Maka, biaya Rp 3 juta akan dikaitkan dalam setiap unit mobil yang diproduksi oleh pabrik dalam lingkup biaya penyerapan.

Melakukan penghitungan ini pun juga dapat menentukan apakah sebuah perusahaan mengalami surplus atau defisit. Caranya adalah sebagai berikut:

Perusahaan mengalami profit

Pendapatan = Rp 1.000.000,00

Harga Pokok Penjualan = Rp 500.000,00

Penghitungan = Rp 1.000.000,00 – Rp 500.000,00 = Rp 500.000,00

Perusahaan mengalami defisit

Pendapatan = Rp 300.000,00

Harga Pokok Penjualan = Rp 500.000,00

Penghitungan= Rp 300.000,00 – Rp 500.000,00 = – Rp 200.000,00

Dari sinilah perusahaan bisa mengevaluasi pekerjanya. Jika perusahaan mengalami profit, kinerja harus dipertahankan dan ditingkatkan lebih optimal. Tetapi, jika perusahaan mengalami defisit, maka perusahaan harus mengubah cara kerja dan penjualan.

Margin Laba Kotor

Margin laba kotor ini adalah rasio dari laba kotor terhadap total pendapatan yang dinyatakan dalam bentuk persentase. Margin ini merupakan cara yang cepat dan berguna untuk membandingkan satu perusahaan dengan pesaing atau keuntungan rata-rata industri. Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang memiliki margin laba kotor tinggi atau stabil.

Rasio margin tinggi menunjukkan bahwa perusahaan mampu untuk menekan beban pokok penjualan, sehingga perusahaan dapat menghasilkan laba jenis ini yang sesuai target, bahkan melampaui target.

Sedangkan, rasio margin yang rendah atau tidak mencapai target menunjukkan bahwa perusahaan tidak mampu untuk menekan biaya pokok penjualan, sehingga akhirnya laba yang dihasilkan menjadi kecil dan perusahaan dapat mengalami kerugian.

Margin laba kotor mempunyai rumusnya sendiri. Rumusnya terdiri dari pendapatan bersih dikurangi harga pokok penjualan lalu dibagi oleh pendapatan bersih. Biasanya, hasilnya ini berbentuk persentase.

Apa kalian sekarang jadi mengerti mengenai laba kotor? Hal seperti ini sangat penting, lho, untuk manajemen keuangan bisnis kalian dan menghindari kerugian atau kebangkrutan.

Manajemen keuangan harus lebih diperhatikan agar keuntungan yang didapat juga dapat dioptimalkan dengan baik. Dengan begitu, kalian bisa merencanakan dan mengelola keuangan bisnis kalian dengan lebih baik, agar keuntungan yang didapat juga lebih maksimal.

Dalam perusahaan, hal ini bisa sangat menyita waktu dan tenaga. Oleh karena itu, serahkan saja manajemen keuangan perusahaanmu kepada JojoExpense! Keuangan akan lebih terkontrol, efisiensi waktumu meningkat dan semua data terkumpul dengan aman terjamin. Buat apa masih mengandalkan manual, jika kamu bisa terbantu dengan adanya aplikasi ini?