Perubahan Budaya Perusahaan dan Dinamikanya

Perubahan Budaya Perusahaan

Perubahan dalam sebuah perusahaan adalah hal yang biasa dan akan terjadi. Tetapi jika yang berubah adalah budaya sebuah perusahaan, maka hal ini dapat menjadi sebuah masalah yang serius. Pergolakan dapat terjadi di semua lini yang ada pada sebuah perusahaan jika perubahan dilakukan secara tiba-tiba. Tetapi ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi resistensi yang terjadi pada saat perubahan budaya dilakukan. Ayo kita lihat caranya!

Perubahan budaya sebuah perusahaan tidak akan terjadi secara begitu saja, ada beberapa hal yang biasanya mengharuskan sebuah budaya perusahaan berubah. Perubahan ini bisa saja terjadi karena adanya faktor internal ataupun eksternal, sebelum kita melihat cara untuk mengurangi resistensi yang terjadi, ada baiknya kita telaah dahulu hal-hal yang dapat menyebabkan perubahan budaya perusahaan

Penyebab Berubahnya Budaya Perusahaan

Perubahan terjadi karena adanya faktor penyebab, begitu juga dengan budaya perusahaan. Pasti ada faktor yang menjadi penyebab sebuah budaya perusahaan berubah. Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan sebuah budaya perusahaan berubah.

Kondisi Karyawan

Faktor pertama dan yang paling kecil untuk memaksa suatu perusahaan merubah budayanya adalah kondisi karyawan. Kondisi karyawan yang bermasalah tidak baik bagi perusahaan karena bisa menciptakan budaya toxic/menjadi racun bagi karyawan lain. Keadaan ini biasanya ditandai dengan adanya karyawan yang selalu memberontak serta mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Perilaku karyawan seperti ini harus segera diredam agar tidak menyebar ke karyawan lainnya. Salah satu cara meredamnya adalah dengan merubah budaya perusahaan.

Pertumbuhan Perusahaan

Saat sebuah perusahaan sukses dan semakin membesar, otomatis ada yang akan mengikuti perkembangan tersebut dan menyesuaikan dengan kebutuhan dari perkembangan perusahaan. Misalnya sebuah startup yang baru mulai dirintis tentunya startup tersebut hanya memiliki sedikit karyawan, hal ini dapat membuat karyawan untuk bekerja secara fleksibel dan santai. Hal ini akan berbeda dengan startup yang sudah mencapai tahap unicorn yang sudah memiliki ribuan karyawan, dan harus mengikuti skema kerja yang sudah tersusun serta sistematis sehingga mengurangi fleksibilitas dalam bekerja. Hal-hal seperti penambahan jumlah karyawan secara signifikan, perubahan sistem kerja dan lain-lain juga dapat dikatakan sebagai sebuah perubahan budaya perusahaan.

Akuisisi/Merger

Terjadinya akuisisi atau merger pada sebuah perusahaan juga dapat membuat sebuah budaya perusahaan menjadi berubah. Sebuah perusahaan yang mengalami akuisisi atau merger, otomatis akan merubah budayanya sesuai dengan perusahaan yang memiliki modal lebih besar tersebut. Mungkin perubahan tidak langsung terjadi, tetapi jika terjadi sebuah akuisisi atau merger, akan ada pergantian kepemimpinan, biasanya hal ini adalah pemicu utama perubahan budaya dalam perusahaan yang melakukan akuisisi/merger

Penolakan dalam Perubahan Budaya Perusahaan

Perubahan Perusahaan

Dalam sebuah perubahan/proses perubahan kerap kali ditemukan sebuah kendala. Kendala yang paling sering muncul terkait dengan sebuah perubahan adalah penolakan terhadap perubahan itu sendiri. Penolakan ini bisa terjadi karena adanya sesuatu yang tidak dikehendaki oleh karyawan yang menolak. Penolakan sebuah perubahan yang paling sering terjadi adalah berikut ini.

Kurang Keinginan Berubah

Kurangnya keinginan untuk berubah sebenarnya berkaitan erat dengan posisi dan “apa yang telah didapatkan” oleh seorang karyawan. Karyawan yang sudah merasa nyaman dengan kondisi yang telah ada cenderung menolak perubahan karena adanya ketakutan untuk meninggalkan zona nyaman/comfort zone yang telah diciptakan. Padahal terlalu betah dengan zona nyaman dapat memberikan efek yang kurang baik bagi produktivitas seorang karyawan

Minim Rasa Memiliki

Perubahan adalah sebuah proses yang harus dilakukan dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh komponen perusahaan, hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari perubahan yang telah direncanakan. Rasa memiliki adalah hal yang penting, karena dengan adanya rasa memiliki secara tidak sadar seorang karyawan akan melakukan hal yang dirasa perlu untuk membuat perusahaannya menjadi lebih baik lagi. Ketika seorang karyawan tidak mempunyai rasa memiliki kepada perusahaannya maka dia tidak akan melakukan untuk membuat keadaan menjadi lebih baik.

Takut Kehilangan Status Quo

Sebenarnya hal ini sejalan dengan alasan pertama, tetapi hal ini lebih spesifik akan datang dari seorang karyawan yang mempunyai jabatan dan sudah berada dalam jangka waktu yang lama dalam perusahaan. akan menjadi lebih sulit jika perubahan ini mengganggu apa yang dianggap oleh karyawan tersebut sebagai “hak special” yang dimiliki olehnya, misalnya pengurangan tunjangan perjalanan, atau penarikan fasilitas. Tentunya karyawan yang merasa dirinya sudah berkontribusi dan harus melakukannya lagi dari awal akan melakukan penolakan yang sangat keras terhadap perubahan dan akan lebih runyam jika yang menolak adalah eksekutif perusahaan.

Solusi untuk Meminimalkan Penolakan Perubahan Budaya PerusahaanManajemen Perubahan

 

Perubahan menuju arah yang lebih baik adalah hal yang harus dilakukan, walaupun ada penolakan yang terjadi, bukan berarti penolakan tersebut tidak dapat diminimalisir. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk meminimalisir penolakan yang terjadi untuk melancarkan perubahan budaya dalam perusahaan.

Peran Pemimpin

Pemimpin dalam suatu perusahaan adalah sebuah hal yang krusial, utamanya dalam perubahan. Dengan adanya dukungan dan anjuran dari pemimpin/eksekutif perusahaan maka perubahan dapat berjalan dengan baik, hal ini dikarenakan karyawan lainnya akan cenderung lebih mendengarkan pimpinan/eksekutif perusahaan. selain itu partisipasi dari pemimpin/eksekutif perusahaan juga sangat diperlukan, hal ini dimaksudkan agar perubahan yang terjadi juga dapat memberikan manfaat kepada mereka. Karena jika tidak diikuti oleh semua komponen perusahaan, maka perubahan tersebut akan percuma.

Dengarkan Masukan Karyawan dan Aplikasikan

Mendengarkan masukan dari karyawan sebagai subjek perubahan bukanlah sebuah hal yang salah. Mendengarkan dan mengaplikasikan masukan yang dapat dilakukan adalah salah satu cara yang baik dalam menghargai karyawan dan kontribusinya dalam perkembangan perusahaan. Karyawan yang suaranya di dengar, bahkan sampai diaplikasikan tentunya akan merasa senang dan merasa bahwa dirinya dihargai, setidaknya ini akan menumbuhkan sifat memiliki dalam karyawan tersebut, yang artinya karyawan tersebut akan dengan senang hati melakukan perubahan, bahkan dapat menjadi bantuan untuk mengajak karyawan lainnya.

Buat Perubahan Secara Bertahap

Sebuah perubahan, apalagi terhadap hal yang mendasar tidak dapat dilakukan secara semena-mena dan mendadak. Perubahan secara mendadak tidak akan berakhir baik, hal tersebut hanya akan memunculkan konflik. Setiap perubahan pasti memerlukan proses, tetapi jangka waktu penerimaan adalah hal yang tidak dapat diprediksi, lebih baik membuat waktu perubahan secara bertahap agar setiap komponen dalam perusahaan bisa menyesuaikan diri secara efektif dengan perubahan yang terjadi.

Buat Program yang Konsisten untuk Perubahan Secara Total

Sebuah program atau perencanaan tahapan perubahan adalah hal yang baik untuk dibuat dan dilakukan. Dengan adanya sebuah perencanaan tahapan, kita dapat mengukur dan memperkirakan akan memakan waktu berapa lama hingga sebuah perubahan dapat terjadi. Dengan mempunyai perencaan serta tahapan tersebut kita juga dapat memperkirakan hambatan apa saja yang akan terjadi dan mempersiapkan mitigasinya.

Perubahan yang paling mudah terlihat, sederhana, dan biasanya diawasi oleh kantor adalah jam masuk atau absensi karyawan  untuk menilai performanya, apakah butuh penyesuaian atau tidak. Dengan sistem HRIS yang terintegrasi dan mudah diakses serta digunakan anda dapat mempermudah pekerjaan ini. Jojonomic mempunyai sistem tersebut untuk memudahkan anda dengan JojoTimes.

Pantau Karyawan Anda dengan JojoTimes

JojoTimes

JojoTimes adalah sebuah sistem HRIS yang memiliki fitur absensi melalui selfie dari perangkat seluler karyawan. Anda tidak perlu lagi repot untuk mengantri absensi di mesin fingerprint ataupun absensi manual. Karyawan hanya tinggal melakukan selfie dan data absensinya akan langsung terekam di sistem HR JojoTimes. Sistem kami merekam semua data, mulai dari wajah, waktu login/absen datang, lokasi absensi, dan waktu absen keluar/waktu pulang.

Sistem kami memiliki anti fraud yang sudah di uji dan geotagging yang akurat, sehingga karyawan tidak dapat memalsukan data yang di input ke dalam sistem.

Selain itu JojoTimes memiliki sebuah keunggulan lain, yaitu kemudahan untuk pengajuan, penyetujuan, dan pengaturan cuti secara online. Karyawan dapat mengajukan cuti secara online melalui aplikasi JojoTimes yang terinstall di gawainya. Aplikasi JojoTimes juga membagi cuti-cuti tersebut ke dalam beberapa kategori, seperti cuti sakit, jatah cuti tahunan, hingga izin setengah hari bekerja. Jadi tidak ada kebingungan dalam merekapitulasi jatah cuti antara HRD dan bagian lain.

Selain itu atasan dapat langsung menyetujui permitaan cuti yang dilakukan oleh karyawannya hanya dengan satu sentuhan, membatalkan permintaan cuti, hingga meminta karyawan tersebut meninjau kembali cutinya. Kemudahan-kemudahan seperti ini ditawarkan oleh aplikasi kami, JojoTimes!